Hilirisasi masih menjadi salah satu poros kebijakan ekonomi Indonesia. Dalam acara BIG Downstream Insights 2026 di Jakarta, Selasa (6/10), pemerintah memaparkan peta jalan pengolahan sumber daya alam untuk 28 komoditas beserta angka proyeksinya. Menurut siaran pers Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, peta jalan itu diproyeksikan menghasilkan investasi US$618,1 miliar, ekspor US$857,6 miliar, dan nilai tambah US$235,9 miliar.
Angka tersebut disampaikan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dan tercatat dalam siaran pers resmi kementerian bertanggal 6 Oktober 2026. Pada hari yang sama, kementerian yang sama merilis keterangan Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Susiwijono Moegiarso, yang menempatkan agenda hilirisasi di tengah risiko global: konflik Selat Hormuz, volatilitas harga komoditas, dan penerapan pajak minimum global.
Tiga Angka Utama Peta Jalan 28 Komoditas
| Komponen | Proyeksi |
|---|---|
| Investasi | US$618,1 miliar |
| Ekspor | US$857,6 miliar |
| Nilai tambah | US$235,9 miliar |
Siaran pers itu menyebut, dengan nilai tambah tersebut, total tambahan ekspor dari program hilirisasi diperkirakan dapat mendekati US$500 miliar.
Airlangga menegaskan bahwa hilirisasi tidak diarahkan hanya pada komoditas mineral dan batu bara:
FAKTA"Saya juga memberikan catatan bahwa hilirisasi tidak sama dengan industrialisasi. Hilirisasi salah satu daripada industri dan berbagai manufaktur lain yang didorong adalah tentunya seperti sektor otomotif, sektor tekstil, produk tekstil, sektor fast moving consumer goods, kemudian sektor strategis lain." — Airlangga Hartarto, Menko Bidang Perekonomian, dikutip siaran pers Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, 6 Oktober 2026.
Hilirisasi Kini Juga Menyasar Komoditas Non-Mineral
Menurut siaran pers, hilirisasi mencakup komoditas berbasis pertanian, perkebunan, kehutanan, serta perikanan dan kelautan. Komoditas seperti kelapa sawit, karet, kelapa, dan produk perikanan disebut memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi produk bernilai tambah dan berorientasi ekspor.
Arah itu memperluas cakupan program hilirisasi yang selama ini dikaitkan terutama dengan mineral dan batu bara. Bagi pelaku sektor tambang, ini berarti kerangka kebijakan yang sama — insentif, akses pasar, dan rantai pasok domestik — juga dipakai untuk mengembangkan sektor pengolahan non-mineral.
Nikel sebagai Bukti: Ekspor Naik dari US$1,3 Miliar ke US$34 Miliar
Siaran pers menyebut dampak hilirisasi pada kinerja ekspor melalui satu contoh utama: ekspor produk berbasis nikel yang meningkat dari sekitar US$1,3 miliar pada 2016 menjadi US$34 miliar pada 2025.
Nikel memang menjadi komoditas percontohan hilirisasi Indonesia. Namun, angka tersebut menggambarkan nilai ekspor produk olahan berbasis nikel secara agregat, bukan volume produksi maupun penerimaan negara dari komoditas itu.
75,7% Investasi Hilirisasi Berada di Luar Jawa
Dari sisi pemerataan, siaran pers mencatat sekitar 75,7% investasi hilirisasi Semester I-2026 berada di luar Jawa. Pemerintah menyebut hal itu turut mendorong tumbuhnya pusat-pusat pertumbuhan baru berbasis sumber daya alam di daerah.
Realisasi Investasi Semester I-2026 Rp1.010 Triliun
Sementara itu, dari sisi realisasi, Susiwijono menyampaikan bahwa investasi yang sudah masuk pada Semester I-2026 mencapai Rp1.010 triliun, atau hampir 50% dari target tahun 2026 sebesar Rp2.041 triliun.
FAKTA"Realisasi investasi pada Semester I-2026 telah mencapai Rp1.010 triliun, atau hampir 50% dari target tahun 2026 sebesar Rp2.041 triliun." — dikutip siaran pers Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, 6 Oktober 2026.
Selat Hormuz dan Kepastian Bahan Baku
Dalam sesi diskusi panel yang sama, Susiwijono menyoroti dampak konflik Selat Hormuz terhadap biaya dan kepastian pasokan:
FAKTA"Saya hanya ingin menggaris bawahi bahwa konflik Selat Hormuz itu sangat berpengaruh ke semua negara. Khususnya kita, terutama selain menciptakan ketidakpastian dari sisi geopolitik global, juga pengaruh ke kenaikan harga. Logistic cost-nya naik semuanya. Yang paling penting sebenarnya masalah kepastian bahan baku." — Susiwijono Moegiarso, Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, 6 Oktober 2026.
Siaran pers mencatat sejumlah indikator risiko eksternal mulai membaik, seperti penurunan *Geopolitical Risk Index* (GPR) hingga Agustus 2026 dan melandainya *Trade Policy Uncertainty* (TPU) sejak puncaknya pada April 2026. Meski begitu, risiko disrupsi rantai pasok, volatilitas harga komoditas, dan kondisi keuangan global disebut tetap perlu diwaspadai.
Insentif, Pajak Minimum Global 15%, dan Akses Pasar
Menurut siaran pers, pemerintah sedang meninjau berbagai skema insentif fiskal seiring perubahan kebijakan perpajakan global, termasuk penerapan Global Minimum Tax sebesar 15% yang dapat memengaruhi efektivitas insentif seperti *tax holiday*.
Selain insentif, perluasan akses pasar melalui kerja sama perdagangan — skema *Comprehensive Economic Partnership Agreement* (CEPA), *Free Trade Agreement* (FTA), dan kerja sama ekonomi lainnya — disebut sebagai instrumen penting untuk meningkatkan daya saing industri sekaligus menarik investasi.
Makro: Pertumbuhan 5,45% dan PMI Manufaktur 52,4
Siaran pers yang sama memuat sejumlah angka makro sebagai konteks:
| Indikator | Angka |
|---|---|
| Pertumbuhan ekonomi Semester I-2026 | 5,45% (y-on-y) |
| Pangsa industri pengolahan terhadap PDB | 18,50% |
| Industri pengolahan nonmigas | tumbuh 5,32%; kontribusi 16,83% PDB |
| PMI Manufaktur Indonesia, September 2026 | 52,4 (dari 49,8 pada Agustus 2026) |
| Defisit anggaran | di bawah 3% PDB |
| Rasio utang pemerintah terhadap PDB | sekitar 41% |
Pemerintah menyebut PMI Manufaktur September 2026 sebagai perbaikan kondisi bisnis terkuat sejak Februari 2026, dan menargetkan pertumbuhan ekonomi 8%. Untuk mendukung transformasi itu, sekitar 15 ribu talenta AI dan semikonduktor ditargetkan dikembangkan dalam tiga tahun ke depan.
Apa Artinya bagi Pelaku Usaha Tambang
- Peta jalan 28 komoditas adalah kerangka proyeksi, bukan anggaran yang sudah dibelanjakan. Angka US$618,1 miliar, US$857,6 miliar, dan US$235,9 miliar adalah proyeksi pemerintah atas potensi program hilirisasi; yang sudah terealisasi adalah realisasi investasi yang dilaporkan secara berkala.
- Cakupan kebijakannya melebar. Karena hilirisasi kini juga menyentuh komoditas pertanian, perkebunan, kehutanan, dan perikanan, insentif dan akses pasar yang sama berpotensi dibaca ulang oleh pelaku di luar mineral dan batu bara.
- Insentif sedang ditinjau. Dengan hadirnya pajak minimum global 15%, efektivitas instrumen seperti *tax holiday* menjadi pertimbangan investor. Bagi perusahaan yang menyusun rencana investasi, waktu dan bentuk insentif layak dipastikan lebih awal.
- Perizinan dan rantai pasok domestik disebut sebagai prasyarat. Untuk menyiapkan dokumen perizinan dan persetujuan yang menopang sebuah proyek pengolahan, langkah dan dokumennya dirangkum di halaman [Layanan Perizinan](/id/layanan-izin). Proyek dan aset yang sedang mencari mitra atau investor didaftarkan di [Marketplace](/id/marketplace).
Catatan Teramine
*Bagian ini adalah analisis editorial kami, bukan pernyataan fakta dari Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian maupun pihak lain, dan bukan rekomendasi investasi.*
Hal pertama yang perlu dijaga saat membaca angka hilirisasi adalah membedakan proyeksi dari realisasi. Angka US$618,1 miliar (investasi), US$857,6 miliar (ekspor), dan US$235,9 miliar (nilai tambah) adalah proyeksi peta jalan 28 komoditas. Sementara itu, angka yang sudah terwujud adalah realisasi investasi — pada semester I-2026 sebesar Rp1.010 triliun, atau hampir separuh target tahunan. Dua jenis angka ini sering dikutip berdampingan seolah setara; kami mencatatnya sebagai hal yang berbeda: yang satu adalah yang diharapkan masuk, yang lain adalah yang sudah masuk.
Kedua, angka agregat menyembunyikan komposisi. Satu peta jalan untuk 28 komoditas mencakup mineral, batu bara, dan juga komoditas non-mineral. Tanpa rincian per komoditas, tidak ada cara menilai seberapa besar bagian yang benar-benar menyentuh sektor tambang dan hilirisasi mineral. Kami tidak menemukan rincian itu dalam sumber yang kami baca.
Ketiga, contoh nikel (US$1,3 miliar pada 2016 menjadi US$34 miliar pada 2025) menunjukkan hasil paling konkret yang tersedia dalam sumber ini. Yang perlu diingat, itu adalah nilai ekspor produk olahan, bukan ukuran bersih dari nilai tambah yang tertinggal di dalam negeri. Untuk pembaca sektor tambang, arah kebijakannya jelas — pengolahan di dalam negeri dan pemerataan ke luar Jawa (75,7% investasi hilirisasi semester I-2026) — tetapi besar manfaatnya bagi satu perusahaan tetap bergantung pada komoditas, lokasi, dan skema insentif yang berlaku bagi proyeknya.
Yang Tidak Dapat Kami Pastikan
- Daftar lengkap 28 komoditas dan nilai investasi per komoditas. Siaran pers hanya menyebut jumlah komoditas, bukan rinciannya.
- Horizon waktu peta jalan. Siaran pers tidak menyebut dalam berapa tahun proyeksi US$618,1 miliar itu dihitung.
- Metodologi dan data pihak ketiga di balik angka proyeksi investasi, ekspor, dan nilai tambah tersebut.
- Rincian realisasi investasi hilirisasi per sektor untuk semester I-2026. Artikel ini tidak memuatnya karena tidak ada dalam sumber yang kami baca.
- Hasil lengkap panel dan sesi diskusi BIG Downstream Insights 2026 di luar dua siaran pers yang kami kutip.
- Teks Peraturan Presiden atau aturan teknis terkait penempatan kelembagaan yang disebut dalam agenda hilirisasi.
Sumber
Artikel ini disusun dari dua siaran pers resmi Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian yang kami buka dan baca langsung pada 6 Oktober 2026. Tidak ada angka, kutipan, nama pejabat, atau nama perusahaan dalam artikel ini yang tidak berasal dari kedua dokumen tersebut.
- Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian — Siaran Pers HM.02.04/334/SET.M.EKON.3/10/2026, "Menko Airlangga: Hilirisasi dan Transformasi Industri Jadi Kunci Dorong Pertumbuhan Ekonomi", Jakarta, 6 Oktober 2026. Digunakan untuk: peta jalan hilirisasi 28 komoditas dengan proyeksi US$618,1 miliar investasi, US$857,6 miliar ekspor, dan US$235,9 miliar nilai tambah serta tambahan ekspor mendekati US$500 miliar; cakupan hilirisasi pada komoditas pertanian, perkebunan, kehutanan, dan perikanan (sawit, karet, kelapa, produk perikanan); ekspor produk berbasis nikel dari sekitar US$1,3 miliar pada 2016 menjadi US$34 miliar pada 2025; sekitar 75,7% investasi hilirisasi Semester I-2026 di luar Jawa; pertumbuhan ekonomi Semester I-2026 sebesar 5,45%; pangsa industri pengolahan 18,50% PDB dan industri pengolahan nonmigas tumbuh 5,32% dengan kontribusi 16,83% PDB; PMI Manufaktur September 2026 sebesar 52,4 dari 49,8 pada Agustus 2026; defisit anggaran di bawah 3% PDB dan rasio utang pemerintah sekitar 41% PDB; target pertumbuhan ekonomi 8%; target sekitar 15 ribu talenta AI dan semikonduktor dalam tiga tahun; serta kutipan Airlangga Hartarto mengenai "hilirisasi tidak sama dengan industrialisasi".
- Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian — Siaran Pers HM.02.04/336/SET.M.EKON.3/10/2026, "Pemerintah Perkuat Ekosistem Hilirisasi Bernilai Tambah Tinggi di Tengah Ketidakpastian Global", Jakarta, 6 Oktober 2026. Digunakan untuk: realisasi investasi Semester I-2026 sebesar Rp1.010 triliun atau hampir 50% dari target 2026 Rp2.041 triliun; dampak konflik Selat Hormuz terhadap biaya logistik dan kepastian bahan baku; penurunan Geopolitical Risk Index (GPR) hingga Agustus 2026 dan melandainya Trade Policy Uncertainty (TPU) sejak April 2026; peninjauan skema insentif fiskal seiring penerapan Global Minimum Tax 15% dan dampaknya terhadap insentif seperti tax holiday; serta perluasan akses pasar melalui CEPA, FTA, dan kerja sama ekonomi lainnya. Kutipan Susiwijono Moegiarso berasal dari dokumen ini.
Untuk konteks kelembagaan hilirisasi di tingkat kementerian koordinator, lihat artikel kami tentang [Kemenko Hilirisasi dan Transisi Energi](/id/news/kemenko-hilirisasi-transisi-energi). Gambaran realisasi investasi dan pergeseran komoditas hilirisasi ada di [Realisasi Investasi Semester I-2026](/id/news/realisasi-investasi-semester-i-2026-hilirisasi-bauksit), dan latar kebijakan pengolahan mineral ada di [Downstreaming Mineral Indonesia](/id/news/indonesia-mineral-processing-downstreaming).


