Harga Batu Bara Global Mendekati US$150: Permintaan Listrik India Melonjak, Pasokan Indonesia Jadi Kunci

By Teramine EditorialPublished 3 October 20267 min read

Harga batu bara acuan global ditutup di US$149,4 per ton pada 2 Oktober 2026, tertinggi sejak 10 September, ditopang lonjakan harga minyak dan krisis pasokan listrik India. CRU Group menilai pasokan ekspor Indonesia pada kuartal IV menjadi kunci skenario risiko harga Newcastle di atas US$200 per ton.

Pasar batu bara global menutup perdagangan Kamis, 2 Oktober 2026, dengan harga acuan di US$149,4 per ton — naik 1,5% dan menjadi level tertinggi sejak 10 September 2026. Menurut data Refinitiv yang dikutip CNBC Indonesia, kenaikan itu melanjutkan penguatan dua hari beruntun dan ditopang dua hal: lonjakan harga minyak dunia serta krisis pasokan listrik di India.

Bagi pembaca Teramine, angka ini relevan bukan karena satu sesi perdagangan, melainkan karena pertemuan dua hal: permintaan impor India yang sedang naik, dan pertanyaan tentang seberapa besar pasokan ekspor Indonesia pada kuartal IV 2026. Artikel ini merangkum data pasar terbaru, mekanisme di baliknya, dan skenario risiko yang oleh CRU Group dinilai bisa mendorong harga acuan Newcastle jauh di atas US$200 per ton.

Harga: dari US$147 ke US$149 per Ton

Tanggal (2026)Harga penutupanPerubahan harianCatatan
Senin, 28 SeptemberUS$147,35/ton+1,27%tertinggi sejak 14 September
Rabu, 30 SeptemberUS$147,2/ton+0,55%naik 2,22% dalam sebulan; tiga bulan beruntun menguat
Kamis, 2 OktoberUS$149,4/ton+1,5%tertinggi sejak 10 September

Angka pada tabel di atas adalah harga batu bara acuan yang dilansir Refinitiv, sebagaimana dikutip CNBC Indonesia. Harga itu tidak sama dengan harga batu bara Indonesia kalori menengah. Pada 30 September 2026, indeks batu bara Indonesia kalori 3.800 kcal/kg NAR naik US$0,5 menjadi US$76,5 per ton (FOB) dan US$88,5 per ton (CFR China). Untuk batu bara Australia 5.500 kcal/kg NAR, penawaran eksportir berada di sekitar US$110 per ton (FOB).

Jadi ada dua "harga batu bara" yang perlu dibedakan: acuan global yang mendekati US$150 per ton, dan indeks kalori menengah khas ekspor Indonesia yang masih sekitar US$76–78 per ton. Selisih itu sebagian besar mencerminkan perbedaan nilai kalori batu bara yang diperdagangkan, bukan dua pasar yang bergerak berlawanan arah.

India: Defisit Listrik Tertinggi sejak Agustus 2023

Pendorong permintaan yang paling konkret datang dari India. Data Grid-India yang dikutip CNBC Indonesia menunjukkan kekurangan pasokan listrik negara itu mencapai 560 juta kWh pada September 2026, tertinggi sejak Agustus 2023, meski pembangkit berbahan bakar batu bara terus menambah kapasitas.

Angka-angka lain menunjukkan batu bara menanggung beban itu:

  • Pembangkit batu bara India membangkitkan listrik 13,3% lebih tinggi dibanding periode yang sama tahun lalu.
  • Porsi batu bara dalam total pembangkitan naik menjadi 66,03%, dari 64,6% pada Agustus.
  • Pembangkit energi terbarukan memang naik 25,1% menjadi 29,62 miliar kWh, tetapi porsinya justru turun menjadi sekitar 17%, dari 19,5%.
  • Total pembangkitan listrik India pada September naik 11,3% secara tahunan menjadi 174,17 miliar kWh, seiring permintaan dari sektor industri.
  • Sekitar dua dari lima pembangkit batu bara dilaporkan memiliki persediaan bahan bakar pada level kritis.

Pada pemberitaan CNBC Indonesia akhir September, sekitar 80 dari 190 pembangkit listrik berbasis batu bara memiliki persediaan bahan bakar kritis, dan stok di pembangkit berbahan batu bara impor hanya sekitar 2,55 juta ton — cukup untuk sekitar delapan sampai sembilan hari. Analis yang dikutip menyebut curah hujan yang lebih rendah (menekan pembangkit air) dan keterbatasan penyimpanan baterai sebagai sebab batu bara kembali menanggung pembangkitan.

Pemasok domestik India, Coal India Ltd (CIL), menggenjot pasokan untuk menutup kekurangan itu. Pasokan CIL ke sektor pembangkit listrik naik 10,63% secara tahunan menjadi 48,90 juta ton pada September 2026, dari 44,20 juta ton pada periode yang sama tahun sebelumnya. Total offtake batu bara naik 12,5% menjadi 61,2 juta ton, sementara produksi naik 9,2% menjadi 53,5 juta ton. Untuk tahun fiskal FY2027, pemerintah India menargetkan Coal India memproduksi 815 juta ton dan memasok 850 juta ton.

Minyak dan Batu Bara: Dua Komoditas Substitusi

Pendorong kedua adalah harga minyak. Pada Kamis, 2 Oktober 2026, Brent naik 4,37% menjadi US$102,31 per barel dan WTI menguat 2,71% ke US$92,87 per barel. Menurut CNBC Indonesia, kenaikan itu dipicu kekhawatiran pasokan setelah Amerika Serikat dikabarkan mengirim tambahan pasukan ke Timur Tengah dan China menghentikan ekspor produk minyak.

Minyak dan batu bara adalah komoditas substitusi di banyak pembangkit dan proses industri, sehingga harganya saling memengaruhi. Ketika bahan bakar cair menjadi mahal, daya tarik batu bara sebagai bahan bakar pembangkit ikut naik. Inilah mekanisme yang menghubungkan gejolak Timur Tengah dengan harga batu bara di Asia.

China dan Kesepakatan Dagang AS

Dari sisi pasokan dan permintaan China, gambarannya bercampur. Harga batu bara termal di mulut tambang China mulai tertekan karena gelombang restocking menjelang libur Mid-Autumn Festival dan National Day mereda. Dari 117 tambang yang disurvei Sxcoal pada 28 September 2026, 19 tambang memangkas harga (di kisaran CNY10–30 per ton), sembilan menaikkan, dan 89 mempertahankan. Stok di pelabuhan Qinhuangdao pada 28 September mencapai 6,25 juta ton, naik 2,46% dari pekan sebelumnya.

Namun pasar impor China justru menunjukkan penguatan. Sebagai bagian dari kesepakatan dagang dengan Amerika Serikat setelah pertemuan Presiden Donald Trump dan Presiden Xi Jinping, China akan mengimpor 10 juta ton batu bara AS setiap tahun pada 2027 dan 2028. Berdasarkan lembar fakta Gedung Putih, total impor batu bara China dari AS diperkirakan mencapai 20 juta ton selama dua tahun — setara sekitar 2% dari total impor batu bara China setiap tahun. Minyak dan gas alam cair (LNG) tidak termasuk dalam daftar komoditas kesepakatan tersebut.

Mengapa Pasokan Indonesia Jadi Kunci

Bagian yang paling relevan bagi pelaku tambang Indonesia datang dari analisis CRU Group yang dikutip CNBC Indonesia. Lembaga riset itu menilai harga batu bara termal benchmark Newcastle 6.000 kcal/kg berpotensi menembus jauh di atas US$200 per ton pada akhir 2026 — tetapi ditekankan bahwa ini adalah skenario risiko kenaikan (upside scenario), bukan proyeksi dasar. CRU juga melihat risiko penurunan harga, salah satunya jika fenomena Super El Niño menekan permintaan batu bara.

Dua pemicu skenario itu disebut bertemu:

  1. Harga LNG yang mahal. Dalam skenario konflik berkepanjangan, CRU memperkirakan harga LNG dapat mencapai sekitar US$40/MMBtu pada Desember 2026 (sekitar 120 euro/MWh). LNG yang mahal meningkatkan daya tarik batu bara sebagai bahan bakar pembangkit. CRU memakai hubungan historis 2021–2023, ketika setiap kenaikan US$1/MMBtu pada harga LNG Asia Timur dan Eropa berkorelasi dengan kenaikan sekitar US$6–20/ton pada harga batu bara Newcastle 6.000 kcal/kg. Dengan asumsi rasio sensitivitas 5:1, harga batu bara dapat menembus US$200/ton.
  2. Pasokan ekspor Indonesia yang mengetat. CRU memperingatkan pasokan ekspor Indonesia bisa turun drastis pada kuartal IV 2026 jika pemerintah benar-benar mempertahankan target produksi 600 juta ton dan menerapkannya secara ketat. CRU menyebut target 2025 sebesar 740 juta ton sebagai pembanding. Jika ekspor Indonesia hampir hilang dari pasar pada kuartal IV, CRU menilai pasar batu bara global akan mengalami pengetatan pasokan yang tajam.

Perlu dicatat, angka target produksi yang dipakai CRU (600 juta ton) adalah angka yang beredar lebih awal. Sebagaimana kami laporkan di artikel [ESDM: 95% RKAB Batu Bara 2026 Sudah Disetujui](/id/news/rkab-batu-bara-2026-disetujui-produksi-720-juta-ton), Direktur Jenderal Mineral dan Batubara Tri Winarno pada 29 September 2026 memperkirakan produksi batu bara nasional tahun ini berada di kisaran 720 juta ton — di atas target awal sekitar 600-an juta ton, tetapi masih di bawah realisasi 2025. Artinya, skenario CRU bertumpu pada asumsi pengetatan yang belum tentu sama dengan keputusan RKAB yang benar-benar diambil. Konteks kuota dan revisi RKAB ada di [Revisi RKAB: Kuota Produksi Batubara dan Nikel](/id/news/revisi-rkab-kuota-produksi-batubara-nikel).

Artinya bagi Pelaku Tambang Indonesia

Tiga hal bisa dipetakan dari data di atas tanpa perlu memproyeksikan harga.

  • Permintaan impor India sedang naik. Defisit listrik dan stok pembangkit yang tipis membuat India menambah pembangkitan batu bara, dan CIL menaikkan pasokan domestiknya. Sebagian kekurangan itu secara historis diisi oleh batu bara impor, termasuk kalori menengah dari Indonesia.
  • Harga ekspor Indonesia bergerak di kelasnya sendiri. Indeks 3.800 kcal/kg NAR yang sekitar US$76,5 per ton jauh di bawah acuan global, sehingga kenaikan harga acuan tidak otomatis berarti kenaikan setara bagi setiap grade ekspor. Arah royalti dan penerimaan negara mengikuti acuan harga yang ditetapkan pemerintah — lihat [HBA Batu Bara](/id/news/hba-batu-bara-acuan-indonesia) dan [PNBP dan Royalti Tambang](/id/news/indonesia-mining-royalties).
  • Kebijakan pasokan domestik kini punya efek global. Justru karena Indonesia adalah pengekspor besar, keputusan soal kuota produksi ikut membentuk harga dunia. Itu sebabnya isu RKAB dan kuota produksi kini dibaca pasar global, bukan hanya oleh pemegang IUP. Untuk konteks pasar yang lebih luas, lihat [Harga Batu Bara, Impor China, dan Batu Bara AS](/id/news/harga-batu-bara-china-impor-batu-bara-as).

Untuk kebutuhan perizinan dan dokumen pendukung usaha tambang, lihat halaman [Layanan Perizinan](/id/layanan-izin). Peluang kerja sama dan take over proyek tambang ada di [Marketplace](/id/marketplace).

Catatan Teramine

*Bagian ini adalah analisis editorial kami, bukan pernyataan fakta dari CNBC Indonesia, Refinitiv, CRU Group, maupun pihak lain, dan bukan rekomendasi investasi.*

Yang paling layak diperhatikan dari rangkaian angka ini bukan bahwa harga naik, melainkan dari mana kenaikan itu datang. Harga batu bara acuan bergerak karena dua hal yang bersifat sementara dan satu hal yang bersifat struktural: harga minyak yang melonjak karena risiko geopolitik, satu kali musim kering yang menekan pembangkit air India, dan pertanyaan jangka panjang tentang seberapa ketat Indonesia akan membatasi produksinya.

Dua yang pertama bisa berbalik cepat. Hujan yang kembali turun di India sudah pernah menurunkan permintaan listrik puncak dalam beberapa hari, dan harga minyak bergerak mengikuti berita, bukan tren. Yang ketiga berbeda: jika Indonesia benar-benar menahan produksi demi menjaga harga, efeknya ke pasar global bertahan lebih lama — dan itu menjelaskan mengapa CRU menaruh bobot besar pada pasokan Indonesia, bukan pada permintaan India.

Kami menilai skenario US$200 per ton milik CRU lebih tepat dibaca sebagai peta risiko daripada ramalan. Angka itu bergantung pada asumsi pengetatan pasokan yang, sebagaimana kami catat, tidak sepenuhnya sejalan dengan sinyal RKAB terbaru yang justru menunjuk ke arah produksi sekitar 720 juta ton. Selama selisih itu belum diselesaikan oleh kebijakan yang benar-benar diumumkan, harga batu bara kemungkinan lebih ditentukan oleh permintaan impor jangka pendek daripada oleh skenario kuartal IV.

Yang Tidak Dapat Kami Pastikan untuk Artikel Ini

  • Harga batu bara acuan mana yang persisnya dilaporkan. CNBC Indonesia menyebut "harga batu bara" merujuk Refinitiv tanpa merinci nama indeksnya. Karena itu kami tidak menyebutnya sebagai Newcastle untuk seluruh tabel; benchmark Newcastle 6.000 kcal/kg kami sebut secara terpisah hanya dalam konteks skenario CRU.
  • Verifikasi independen atas angka Grid-India, Coal India, dan Sxcoal. Semua angka di atas kami kutip dari pemberitaan CNBC Indonesia; kami tidak membuka langsung laporan Grid-India, Coal India, Refinitiv, maupun Sxcoal.
  • Keputusan resmi soal kuota produksi batu bara kuartal IV 2026. Tidak ada dokumen keputusan yang kami baca; pembahasan target 600 juta ton bersumber dari analisis CRU, bukan dari keputusan pemerintah yang kami periksa.
  • Arah harga ke depan dan dampaknya ke emiten. Tidak ada proyeksi pendapatan, margin, atau arus kas yang kami hitung, dan tidak ada rekomendasi saham di artikel ini.
  • Volume ekspor Indonesia per grade atau tujuan. Tidak ada data volume yang kami baca untuk periode yang sama.

Sumber

Artikel ini disusun dari pemberitaan CNBC Indonesia yang mengutip data Refinitiv, Grid-India, Coal India Ltd, survei Sxcoal, analisis CRU Group, dan lembar fakta Gedung Putih. Kami tidak membuka dokumen primer lembaga-lembaga tersebut secara langsung.

Untuk kebutuhan perizinan dan dokumen pendukung usaha tambang, lihat halaman [Layanan Perizinan](/id/layanan-izin). Peluang kerja sama dan take over proyek ada di [Marketplace](/id/marketplace).

Sources & References

Citing a report by CNBC Indonesia — 'Harga Batu Bara Dekati US$ 150, Disulut Harga Minyak & Krisis di India', 2 Oktober 2026, 08:30 WIB (harga batu bara acuan Refinitiv ditutup US$149,4/ton pada 2 Oktober 2026, +1,5%, tertinggi sejak 10 September 2026; Brent +4,37% ke US$102,31/barel dan WTI +2,71% ke US$92,87/barel; kekurangan listrik India 560 juta kWh pada September 2026, tertinggi sejak Agustus 2023; pembangkit batu bara India +13,3% tahunan dengan porsi 66,03% dari 64,6%; energi terbarukan +25,1% ke 29,62 miliar kWh dengan porsi turun ke sekitar 17% dari 19,5%; total pembangkitan India +11,3% tahunan ke 174,17 miliar kWh; sekitar dua dari lima pembangkit batu bara berstok kritis; pasokan Coal India ke sektor listrik +10,63% tahunan ke 48,90 juta ton dari 44,20 juta ton, offtake +12,5% ke 61,2 juta ton, produksi +9,2% ke 53,5 juta ton, target FY2027 produksi 815 juta ton dan pasokan 850 juta ton; indeks batu bara Indonesia 3.800 kcal/kg NAR pada 30 September 2026 naik US$0,5 ke US$76,5/ton FOB dan US$88,5/ton CFR China; batu bara Australia 5.500 kcal/kg NAR sekitar US$110/ton FOB)., …

  1. 1
  2. 2
  3. 3

This article was rewritten with added context and data. Original sources are listed for transparency.

Harga Batu BaraBatubaraIndiaEkspor BatubaraRKABCNBC IndonesiaNewcastle
Share

Related Mining Opportunities

Mining projects currently offered on Teramine for this commodity.

Browse Mining Opportunities

Looking for mining investment opportunities in Indonesia?

Browse IUP projects available for take over, joint operation and joint venture on Teramine.

Explore Mining Opportunities

Own a mining asset or project?

Publish your mining opportunity to Teramine's investor network.

Submit Mining Opportunity

Ada Pertanyaan?

Konsultasi gratis dengan tim ahli kami

Hubungi Kami