Realisasi Investasi Semester I-2026 Rp1.010,6 Triliun: Bauksit Geser Nikel di Hilirisasi

By Teramine EditorialPublished 27 September 20268 min readCompany: Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM

BKPM mencatat realisasi investasi semester I-2026 Rp1.010,6 triliun, tumbuh 7,2 persen y-on-y dan menyerap 1.448.862 tenaga kerja. Investasi hilirisasi Rp300,1 triliun, dan pada triwulan II-2026 bauksit untuk pertama kalinya menempati posisi teratas menggantikan nikel.

Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM mencatat realisasi investasi Indonesia pada semester I-2026 mencapai Rp1.010,6 triliun, tumbuh 7,2 persen secara tahunan (_y-on-y_) dibanding periode yang sama tahun 2025, dan menyerap 1.448.862 tenaga kerja atau naik 15 persen (_y-on-y_). Angka itu disampaikan dalam siaran pers resmi BKPM bertanggal Jumat, 17 Juli 2026.

Artikel ini bukan laporan atas peristiwa hari ini. Data di dalamnya adalah rilis semester terbaru yang kami baca dari BKPM, dan kami mengangkatnya karena dua hal: untuk pertama kalinya bauksit menempati posisi teratas di antara komoditas hilirisasi, dan komposisi penanaman modal asing kembali melampaui penanaman modal dalam negeri, berbeda dari triwulan II-2025 ketika PMDN mendominasi.

Angka Utama Semester I-2026

IndikatorSemester I-2026Pembanding
Realisasi investasiRp1.010,6 triliunRp942,9 triliun (semester I-2025)
Pertumbuhan tahunan7,2 persen13,6 persen (semester I-2025 dibanding semester I-2024)
Tenaga kerja terserap1.448.862 orangnaik 15 persen (_y-on-y_)
Capaian terhadap target tahun berjalan49,5 persen dari Rp2.041,3 triliun49,5 persen dari Rp1.905,6 triliun pada 2025
Realisasi triwulan IIRp511,8 triliun, tumbuh 7,1 persen (_y-on-y_)Rp477,7 triliun, tumbuh 11,5 persen (_y-on-y_) pada triwulan II-2025
Tenaga kerja triwulan II742.293 orangtidak dirinci

Angka pembanding semester I-2025 dan triwulan II-2025 berasal dari siaran pers BKPM 29 Juli 2025, yang mencatat capaian semester I-2025 sebesar Rp942,9 triliun atau tumbuh 13,6 persen (_y-on-y_).

Hilirisasi Rp300,1 Triliun dan Pergeseran ke Bauksit

Realisasi investasi sektor hilirisasi pada semester I-2026 mencapai Rp300,1 triliun, atau 29,7 persen dari total investasi nasional. Komoditas mineral masih menjadi penggerak utama: rilis itu menyebut bauksit, nikel, tembaga, besi baja, dan pasir silika.

Pada triwulan II-2026, BKPM mencatat realisasi hilirisasi Rp152,7 triliun, tumbuh 5,7 persen (_y-on-y_) dan menyumbang 29,8 persen dari total realisasi triwulan itu. Yang berubah adalah urutan komoditasnya. Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan P. Roeslani menyatakannya dalam rilis tersebut:

"Kalau kita lihat biasanya itu nikel yang menjadi nomor satu. Nah ini ada _shifting_, bauksit sekarang menjadi nomor satu. Karena memang ada beberapa pembangunan bauksit, baik yang dilakukan oleh penanam modal dalam negeri maupun luar negeri, sehingga bauksit untuk pertama kalinya mengambil tempat nomor satu." — Rosan P. Roeslani, siaran pers BKPM, 17 Juli 2026

Rilis itu tidak menyebut nama proyek bauksit mana pun dan tidak merinci nilai investasi per komoditas. Karena itu, yang bisa dicatat dari sumber ini adalah urutannya, bukan besar pergeserannya.

Sebagai pembanding, pada triwulan II-2025 hilirisasi tercatat Rp144,5 triliun, tumbuh 36,8 persen (_y-on-y_) dan menyumbang 30,2 persen dari total triwulan. Sepanjang Januari–Desember 2025, realisasi hilirisasi mencapai Rp584,1 triliun atau tumbuh 43,3 persen, dengan mineral Rp373,1 triliun, perkebunan dan kehutanan Rp144,5 triliun, minyak dan gas bumi Rp60 triliun, serta perikanan dan kelautan Rp6,4 triliun.

Komposisi Modal: PMA Kembali di Atas PMDN

KomponenTriwulan II-2025Triwulan II-2026
Penanaman Modal Asing (PMA)Rp202,2 triliun (42,3 persen)Rp257,7 triliun (50,4 persen)
Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN)Rp275,5 triliun (57,7 persen)Rp254,1 triliun (49,6 persen)

Untuk keseluruhan semester I-2026, PMA mencapai Rp507,6 triliun (50,2 persen) dan PMDN Rp502,9 triliun (49,8 persen). BKPM menyebut realisasi penanaman modal asing triwulan II-2026 dipimpin Hong Kong, dan lima negara atau ekonomi teratas bersama-sama menyumbang 79,6 persen dari total realisasi penanaman modal asing pada periode itu. Rosan menyoroti asal modal tersebut:

"Di kuartal kedua ini untuk pertama kalinya dalam sepuluh tahun terakhir Tiongkok investasinya lebih agresif melalui Hongkong sehingga posisi pertama dari PMA (Penanaman Modal Asing) di kuartal kedua ini ditempati oleh Hongkong dengan USD5 miliar." — Rosan P. Roeslani, siaran pers BKPM, 17 Juli 2026

Sebaran Wilayah dan Sektor

Investasi di luar Pulau Jawa sedikit lebih besar daripada investasi di Jawa, baik pada triwulan II-2026 maupun secara kumulatif semester I-2026.

WilayahTriwulan II-2026Semester I-2026
Luar Pulau JawaRp256,5 triliun (50,1 persen)Rp507,8 triliun (50,2 persen)
Pulau JawaRp255,3 triliun (49,9 persen)Rp502,8 triliun (49,8 persen)

Lima provinsi dengan realisasi investasi terbesar pada triwulan II-2026 menurut rilis tersebut:

ProvinsiRealisasi triwulan II-2026
DKI JakartaRp94,9 triliun
Jawa BaratRp61,3 triliun
Maluku UtaraRp40,2 triliun
Jawa TimurRp40,1 triliun
Sulawesi TengahRp36,6 triliun

Dari sisi sektor usaha, lima teratas pada semester I-2026 menurut rilis itu adalah Industri Logam Dasar, Barang Logam, Bukan Mesin dan Peralatannya; disusul Jasa Lainnya; Pertambangan; Transportasi, Gudang dan Telekomunikasi; serta Perumahan, Kawasan Industri dan Perkantoran. Rilis semester I-2026 hanya menyebut urutan itu tanpa nilai rupiah per sektor. Nilai per sektor terakhir yang kami baca ada pada rilis triwulan II-2025: industri logam dasar Rp67,1 triliun (14,1 persen), pertambangan Rp53,6 triliun (11,2 persen), dan jasa lainnya Rp44,8 triliun (9,4 persen). Angka itu periode 2025, bukan 2026, dan tidak dapat dipakai sebagai perbandingan langsung dengan realisasi 2026.

Garis Waktu Rilis Data Investasi BKPM

Tanggal rilisIsi
29 Juli 2025Realisasi investasi semester I-2025 Rp942,9 triliun, tumbuh 13,6 persen (_y-on-y_)
15 Januari 2026Realisasi Januari–Desember 2025 Rp1.931,2 triliun atau 101,3 persen dari target Rp1.905,6 triliun, tumbuh 12,7 persen (_y-on-y_); hilirisasi Rp584,1 triliun, tumbuh 43,3 persen
17 Juli 2026Realisasi investasi semester I-2026 Rp1.010,6 triliun, tumbuh 7,2 persen (_y-on-y_); hilirisasi Rp300,1 triliun (29,7 persen)

Apa Artinya bagi Pelaku Usaha Tambang

Tiga hal berikut diambil langsung dari rilis yang kami baca, tanpa tambahan tafsir:

  • Pertambangan tetap salah satu tujuan modal terbesar. Subsektor ini berada di lima sektor teratas realisasi investasi semester I-2026, pada posisi ketiga setelah industri logam dasar dan jasa lainnya.
  • Hilirisasi mineral masih inti, tetapi pemuncaknya bergeser. Pada triwulan II-2026, bauksit menempati posisi teratas di antara komoditas hilirisasi menurut pernyataan menteri, setelah sebelumnya nikel. Bauksit, nikel, tembaga, besi baja, dan pasir silika disebut sebagai penggerak peningkatan nilai tambah industri nasional.
  • Perizinan disebut sebagai bagian dari strategi menjaga momentum. Rilis itu menyatakan pemerintah akan menjaga momentum investasi antara lain melalui penyederhanaan perizinan berusaha, percepatan pembangunan kawasan industri dan hilirisasi, serta peningkatan kualitas pelayanan kepada investor.

Bagi perusahaan yang sedang menyiapkan dokumen perizinan atau menyesuaikan alur persetujuan, langkah dan dokumennya dirangkum di halaman [Layanan Perizinan](/id/layanan-izin). Untuk melihat proyek yang sedang mencari mitra atau investor, daftarnya ada di [Marketplace](/id/marketplace). Konteks penerimaan negara dari subsektor minerba kami ulas di [PNBP minerba Rp108,13 triliun hingga Agustus 2026](/id/news/pnbp-minerba-rp108-triliun-produksi-batubara-turun-2026), dan gambaran ekonomi daerah penghasil tambang ada di [Ekonomi Sulteng Triwulan II-2026](/id/news/ekonomi-sulteng-hilirisasi-nikel-resentralisasi).

Catatan Teramine

Bagian Catatan Teramine ini analisis editorial kami, bukan pernyataan fakta dan bukan kutipan dari sumber mana pun.

Pertama, soal laju. Pertumbuhan realisasi investasi melambat dari 13,6 persen pada semester I-2025 menjadi 7,2 persen pada semester I-2026. Sebagian perbedaan itu soal basis: capaian 2025 dibandingkan dengan semester I-2024 yang lebih lemah. Yang lebih kami perhatikan adalah proporsi capaian terhadap target tahun berjalan yang identik pada kedua periode, 49,5 persen, padahal target 2026 lebih tinggi (Rp2.041,3 triliun dibanding Rp1.905,6 triliun). Artinya sisa separuh target 2026 harus dikejar pada semester II dengan laju pertumbuhan yang lebih rendah daripada 2025.

Kedua, motor pertumbuhan bergeser. Total investasi triwulan II-2026 tumbuh 7,1 persen, sementara hilirisasi tumbuh 5,7 persen, lebih lambat dari totalnya. Pada triwulan yang sama tahun lalu hubungannya terbalik: hilirisasi tumbuh 36,8 persen, jauh di atas pertumbuhan total. Porsi hilirisasi bertahan di kisaran 30 persen sepanjang dua semester, jadi yang berubah bukan besar porsinya, melainkan siapa yang menarik. Hilirisasi masih menopang, tetapi tidak lagi memimpin.

Ketiga, soal bauksit. Kami membacanya sebagai sinyal satu triwulan, bukan tren. Rilis itu menyebut posisi bauksit dalam konteks triwulan II-2026 dan tidak merinci nilai per komoditas, sehingga tidak ada cara memastikan seberapa jauh jarak bauksit di atas nikel atau apakah posisi itu bertahan pada triwulan berikutnya. Gambaran setahun 2025 masih menunjukkan mineral sebagai blok dominan di dalam hilirisasi, dengan Rp373,1 triliun dari total Rp584,1 triliun.

Keempat, konsentrasi sumber modal. Lima negara atau ekonomi teratas menyumbang 79,6 persen realisasi PMA triwulan II-2026, sementara komposisi PMA-PMDN berbalik dari 42,3 persen PMA pada triwulan II-2025 menjadi 50,4 persen pada triwulan II-2026. Perubahan komposisi seperti itu bisa dibaca sebagai tanda masuknya modal asing, dan bisa juga dibaca sebagai tanda tertahannya modal domestik. Satu triwulan belum cukup untuk memilih salah satu bacaan.

Yang tidak dapat kami verifikasi untuk artikel ini: nilai investasi per sektor dan per komoditas pada semester I-2026 (tidak ada dalam rilis), nama proyek bauksit yang dimaksud menteri, rincian negara atau ekonomi asal PMA selain Hong Kong, dan apakah target investasi Rp2.041,3 triliun tercapai. Rilis triwulan III-2026 belum terbit saat artikel ini ditulis.

Sumber

Seluruh angka dan kutipan dalam artikel ini diambil dari tiga siaran pers resmi Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM yang kami buka dan baca langsung. Tidak ada angka dalam artikel ini yang berasal dari perkiraan kami sendiri.

Sources & References

According to an official statement from Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM — Siaran pers 17 Juli 2026, "Realisasi Investasi Semester I 2026 Tembus Rp 1.010 T, Serap 1,4 Juta Tenaga Kerja Langsung": realisasi semester I-2026 Rp1.010,6 triliun (tumbuh 7,2 persen y-on-y); 1.448.862 tenaga kerja (naik 15 persen y-on-y); 49,5 persen dari target Rp2.041,3 triliun; realisasi triwulan II-2026 Rp511,8 triliun (tumbuh 7,1 persen y-on-y) dan 742.293 tenaga kerja; PMA triwulan II Rp257,7 triliun (50,4 persen) dan PMDN Rp254,1 triliun (49,6 persen); PMA semester I Rp507,6 triliun (50,2 persen) dan PMDN Rp502,9 triliun (49,8 persen); lima ekonomi teratas menyumbang 79,6 persen realisasi PMA triwulan II; sebaran wilayah dan lima provinsi terbesar; urutan sektor usaha; hilirisasi Rp300,1 triliun (29,7 persen) dan Rp152,7 triliun pada triwulan II (tumbuh 5,7 persen, 29,8 persen dari total triwulan); pernyataan Menteri Rosan P. Roeslani soal bauksit dan Hong Kong, …

  1. 1
  2. 2
  3. 3

This article was rewritten with added context and data. Original sources are listed for transparency.

Realisasi InvestasiHilirisasiBauksitNikelPMAPMDNBKPM
Share

Related Mining Opportunities

Mining projects currently offered on Teramine for this commodity.

Browse Mining Opportunities

Looking for mining investment opportunities in Indonesia?

Browse IUP projects available for take over, joint operation and joint venture on Teramine.

Explore Mining Opportunities

Own a mining asset or project?

Publish your mining opportunity to Teramine's investor network.

Submit Mining Opportunity

Ada Pertanyaan?

Konsultasi gratis dengan tim ahli kami

Hubungi Kami

Related Articles

Indonesia's Mineral Downstreaming: The Processing Capacity Being Built, Commodity by Commodity
Mining InvestmentMining Intelligence

Indonesia's Mineral Downstreaming: The Processing Capacity Being Built, Commodity by Commodity

Indonesia's downstreaming roadmap runs to 2045; the plant on the ground is narrower and countable. ESDM's own count as of 2024 is 131 nickel smelters at some stage of delivery demanding 438.3 million tonnes of ore a year, three world-class copper smelters heading for about 1 million tonnes of cathode capacity, eight alumina refineries and aluminium smelters still under construction, and a copper fleet expected to yield lead as a by-product. This is the capacity, commodity by commodity, and the ore arithmetic under it.

30 Sep 20269 min read
NickelCopperBauxite
Indonesia Mining Companies: the State Holding, Its Members and the Foreign Operators
Mining InvestmentMining Intelligence

Indonesia Mining Companies: the State Holding, Its Members and the Foreign Operators

USGS lists five companies inside MIND ID, the state mining holding, while MIND ID's own site now shows six members holding stakes from 34% to 100%. Here is who owns what, what each company produces, and how the foreign-owned operators fit alongside them.

27 Sep 20268 min read
NickelCopperTinBauxiteCoalGold
Peta Jalan Hilirisasi 28 Komoditas: Proyeksi Investasi US$618,1 Miliar dan Ekspor US$857,6 Miliar
Mining InvestmentInvestment

Peta Jalan Hilirisasi 28 Komoditas: Proyeksi Investasi US$618,1 Miliar dan Ekspor US$857,6 Miliar

Pemerintah membeberkan peta jalan hilirisasi untuk 28 komoditas dengan proyeksi investasi US$618,1 miliar, ekspor US$857,6 miliar, dan nilai tambah US$235,9 miliar. Hilirisasi kini juga menyasar komoditas non-mineral seperti sawit, karet, dan kelapa. Berikut angka resmi dan konteksnya.

6 Okt 20267 menit
Nickel