Harga emas dunia kembali tertekan pada akhir pekan pertama Oktober 2026. Merujuk data Refinitiv yang dikutip CNBC Indonesia, harga emas ditutup di US$4.142,34 per troy ons pada Jumat, 2 Oktober 2026 — turun 0,85% dalam sehari dan 3,36% dalam sepekan. Ini menjadi pelemahan mingguan kedua secara beruntun.
Yang membuat pekan itu menarik bukan sekadar arah harganya, melainkan kejadiannya. Emas turun justru pada pekan ketika data tenaga kerja Amerika Serikat (AS) melemah dan peluang kenaikan suku bunga The Federal Reserve (The Fed) pada Oktober merosot tajam. Dua hal itu biasanya menjadi kabar baik bagi logam mulia. Pekan ini tidak.
Artikel ini merangkum angka yang dilaporkan, memisahkan penyebab jangka pendek dari yang lebih struktural, dan mencatat apa yang belum bisa disimpulkan dari data yang tersedia.
Angka utama pekan ini
| Tanggal (2026) | Harga emas spot | Perubahan harian | Keterangan |
|---|---|---|---|
| Kamis, 1 Oktober | US$4.177,76/oz | +0,52% | penutupan menurut Refinitiv |
| Jumat, 2 Oktober | US$4.142,34/oz | -0,85% | sepekan: -3,36% (pelemahan mingguan kedua beruntun) |
Angka di atas adalah harga emas *spot* dalam dolar AS per troy ons, sebagaimana dilansir Refinitiv dan dikutip CNBC Indonesia. Harga acuan bisa berbeda antar laporan karena perbedaan sumber data dan waktu pencatatan; untuk penutupan Jumat kami memakai angka yang dilaporkan CNBC Indonesia pada 3 Oktober 2026, dan untuk penutupan Kamis angka yang dilaporkan pada 2 Oktober 2026.
Menurut laporan yang sama, sejak perang AS–Israel dengan Iran pecah pada akhir Februari 2026, harga emas telah turun lebih dari 20%. Lonjakan harga energi akibat konflik itu dinilai meningkatkan kekhawatiran inflasi dan membuat pasar memperkirakan suku bunga AS bertahan tinggi lebih lama.
Mengapa emas turun meski data tenaga kerja AS lemah
Pekan itu ditutup dengan data pasar tenaga kerja AS yang jauh di bawah perkiraan. Data Departemen Tenaga Kerja AS menunjukkan jumlah pekerja di luar sektor pertanian (*nonfarm payrolls*) hanya bertambah 29.000 pada September 2026, jauh di bawah perkiraan ekonom dalam polling Reuters yang memperkirakan penambahan 90.000. Penambahan pada Agustus juga direvisi turun, dari 162.000 menjadi 133.000, dan tingkat pengangguran AS naik menjadi 4,2% pada September dari 4,1% pada Agustus.
Reaksinya berlangsung singkat. Emas sempat menguat lebih dari 1% setelah data dirilis, tetapi kenaikan itu tidak bertahan lama; harga berbalik turun ketika tingginya imbal hasil US Treasury dan dolar AS tetap menjadi beban.
Beberapa detail menunjukkan gambaran tenaga kerja yang tidak sepenuhnya lemah. Pengajuan awal tunjangan pengangguran masih berada di sekitar level terendah dalam 57 tahun, didukung laba perusahaan yang kuat dan permintaan domestik yang bertahan. Sebagian ekonom juga menilai lemahnya penambahan tenaga kerja September dapat dipengaruhi faktor musiman, termasuk waktu libur *Labor Day* yang jatuh lebih lambat pada tahun ini.
Imbal hasil US Treasury: level tertinggi sejak 2002
Pendorong yang paling langsung disebut kedua laporan adalah pasar obligasi pemerintah AS. Imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun dan 30 tahun pada Kamis bahkan sempat menyentuh level tertinggi sejak 2002.
Mekanismenya sederhana dan berulang: emas tidak memberikan imbal hasil. Ketika yield obligasi pemerintah naik, aset berbunga menjadi relatif lebih menarik dibandingkan logam mulia yang hanya mengandalkan kenaikan harga. Dolar AS yang juga menuju penguatan secara mingguan menambah tekanan, karena dolar yang lebih kuat membuat emas menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lain.
The Fed: peluang kenaikan Oktober merosot, emas tetap tertekan
Data inflasi AS yang lebih rendah dari perkiraan sempat mengubah ekspektasi pasar. Menurut CNBC Indonesia, peluang kenaikan suku bunga The Fed pada Oktober turun menjadi 31%, dari 45% sebelum data dirilis dan 69% sepekan sebelumnya. Menjelang akhir pekan, CME FedWatch Tool dikutip menunjukkan peluang sekitar 22%, merosot dari sekitar 70% pada awal pekan. Ekspektasi itu juga diperkuat sikap setidaknya dua pejabat senior The Fed yang menentang kenaikan suku bunga lagi pada Oktober.
Peluang kenaikan bunga yang berkurang seharusnya mengurangi salah satu beban emas, tetapi tidak cukup menahannya.
"Pelaku pasar emas mungkin masih enggan terbawa suasana untuk sementara waktu, karena mereka tahu The Fed masih mempertahankan kecenderungan hawkish." — Han Tan, Kepala Analis Pasar Bybit, dikutip Reuters melalui CNBC Indonesia, 3 Oktober 2026.
"Dalam beberapa bulan ke depan, sebagian besar arah emas akan bergantung pada seberapa besar The Fed bersedia menoleransi potensi pelemahan pasar tenaga kerja, sementara fokusnya tetap tertuju pada upaya menekan inflasi AS." — Han Tan, dikutip Reuters melalui CNBC Indonesia, 3 Oktober 2026.
Dari sisi teknikal, analis Marex, Edward Meir, menilai pergerakan emas masih lemah:
"Grafiknya masih terlihat cukup suram dan emas masih bisa turun lebih dalam jika siklus kenaikan suku bunga kembali berlanjut." — Edward Meir, Marex, dikutip Reuters melalui CNBC Indonesia, 3 Oktober 2026.
Sebelumnya, David Meger dari High Ridge Futures menyebut ekspektasi suku bunga yang lebih rendah sempat menopang pasar logam mulia:
"Ekspektasi kenaikan suku bunga yang lebih rendah telah menopang pasar logam mulia." — David Meger, Director of Metals Trading High Ridge Futures, dikutip Refinitiv melalui CNBC Indonesia, 2 Oktober 2026.
Proyeksi yang dipangkas
Menghadapi tekanan itu, sejumlah lembaga memangkas proyeksi. Menurut CNBC Indonesia, HSBC memangkas proyeksi rata-rata harga emas 2026 dan 2027 masing-masing menjadi US$4.490 dan US$4.825 per troy ounce, sembari memperkirakan tekanan jangka pendek masih berlanjut sebelum harga berpotensi menemukan titik bawah.
Sisi Indonesia: emas Antam dan harga buyback
Tekanan global itu terasa juga di pasar domestik. Pada Sabtu, 3 Oktober 2026, harga emas Antam ukuran 1 gram turun Rp2.000 menjadi Rp2.574.000 per gram, melanjutkan penurunan hari sebelumnya sebesar Rp5.000 menjadi Rp2.576.000 per gram. Harga *buyback* turun lebih dalam, yaitu Rp6.000 menjadi Rp2.380.000 per gram, dari sebelumnya Rp2.386.000 per gram. Semua angka ini mengutip situs resmi Logam Mulia sebagaimana dilaporkan CNBC Indonesia.
Bagi calon pembeli, transaksi emas batangan Antam dikenakan Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 22 sebesar 0,25% bagi pemilik Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) dan 0,5% bagi non-NPWP. Untuk *buyback* dengan nilai di atas Rp10 juta, dipotong PPh Pasal 22 sebesar 1,5% bagi pemilik NPWP dan 3% bagi non-NPWP, dipotong langsung dari total nilai transaksi.
Perak ikut bergerak
Pasar logam mulia lain tidak sepi. Harga perak ditutup di US$60,85 per troy ons pada Kamis, 1 Oktober 2026, menguat 0,73%, lalu menambah 0,35% menjadi US$61,06 per troy ons pada Jumat, 2 Oktober 2026, menurut Refinitiv melalui CNBC Indonesia.
Apa artinya bagi pembaca
Tiga hal bisa dibaca dari rangkaian data di atas tanpa perlu memproyeksikan harga.
- Bagi pemegang emas fisik, angka yang berlaku saat menjual adalah harga *buyback*, bukan harga *spot* global. Pada 3 Oktober 2026 harga *buyback* Antam dilaporkan Rp2.380.000 per gram.
- Bagi pelaku usaha dan investor, yang bergerak pekan itu bukan produksi atau pasokan tambang, melainkan biaya uang: imbal hasil obligasi dan nilai dolar. Emas turun justru di tengah kekhawatiran inflasi, situasi yang dijelaskan sumber sebagai akibat yield yang lebih menarik pada aset berpendapatan tetap.
- Bagi yang memakai emas sebagai lindung nilai, fungsi itu sedang diuji lagi. Emas masih dipandang sebagai lindung nilai inflasi, tetapi lingkungan suku bunga tinggi menaikkan biaya peluang memegang aset yang tidak memberi imbal hasil.
Konteks harga emas dunia pada pekan-pekan sebelumnya kami ulas di [Harga Emas Dunia Turun 2% Sepekan, Tertekan Suku Bunga The Fed](/id/news/harga-emas-dunia-turun-2-persen-sepekan-fed) dan [Harga Emas Dunia Ambruk ke US$4.180,49](/id/news/harga-emas-ambruk-tekanan-suku-bunga-the-fed), sedangkan pergerakan harga ritel domestik ada di [Harga Emas Antam, Logam Mulia, dan Pegadaian](/id/news/harga-emas-antam-logam-mulia-dan-pegadaian). Pelaku usaha yang membutuhkan mitra pembiayaan atau kerja sama di rantai tambang dan emas dapat melihat daftar di halaman [Marketplace](/id/marketplace) kami.
Catatan Teramine
Bagian Catatan Teramine ini adalah analisis editorial kami. Ia bukan pernyataan fakta dari CNBC Indonesia, Refinitiv, The Fed, maupun pihak lain, dan bukan rekomendasi investasi.
Yang paling layak dicatat dari pekan ini adalah paradoksnya. Data tenaga kerja AS yang jauh lebih lemah dari perkiraan semestinya menurunkan ekspektasi kenaikan suku bunga — dan memang itu yang terjadi, dengan peluang kenaikan Oktober merosot dari sekitar 70% ke sekitar 22% dalam sepekan. Bagi emas, itu semestinya angin segar. Namun harga tetap turun, dan penyebabnya ada di satu variabel yang tidak bergerak bersama ekspektasi suku bunga jangka pendek: imbal hasil obligasi pemerintah AS yang menyentuh level tertinggi sejak 2002, ditambah dolar yang menguat.
Bagi kami, pembacaan itu penting karena menunjukkan emas tidak diperdagangkan semata atas ekspektasi kebijakan The Fed, melainkan atas biaya memegang aset tanpa imbal hasil. Selama yield tetap tinggi dan dolar kuat, meredanya peluang kenaikan bunga tidak otomatis mengangkat emas. Pergerakan peluang dari 69% ke 22% dalam hitungan hari juga memperlihatkan betapa cepat ekspektasi pasar berubah — dan betapa rapuh kesimpulan yang dibangun di atas satu pekan data.
Yang kami anggap lebih struktural adalah konteks jangka panjangnya: emas dilaporkan telah turun lebih dari 20% sejak perang AS–Israel dengan Iran pecah pada akhir Februari 2026. Itu bukan gejolak satu pekan, melainkan penyesuaian terhadap dunia di mana suku bunga diperkirakan bertahan tinggi lebih lama. Sepanjang kerangka itu belum berubah, dua angka yang layak diikuti bukan harga spot harian, melainkan arah imbal hasil US Treasury dan nilai dolar AS.
Yang tidak dapat kami pastikan untuk artikel ini
- Penutupan harga emas pada Rabu, 30 September 2026. Sumber menyebut emas "ambruk pada Rabu" tetapi tidak mencantumkan angka penutupan hari itu dalam laporan yang kami baca, sehingga tidak ada angka yang kami pakai.
- Perbedaan angka harga Jumat antar dua laporan. Laporan 2 Oktober 2026 menyebut emas menguat 0,1% ke US$4.182,17 per troy ons (posisi saat laporan ditulis), sedangkan laporan 3 Oktober 2026 mencatat penutupan Jumat di US$4.142,34 (-0,85%). Kami memakai angka penutupan dari laporan 3 Oktober 2026, dan mencatat perbedaan waktu pencatatan ini apa adanya.
- Nama dan jumlah pasti pejabat The Fed yang menentang kenaikan suku bunga pada Oktober; sumber hanya menyebut "setidaknya dua pejabat senior".
- Verifikasi independen atas angka Refinitiv, CME FedWatch Tool, data Departemen Tenaga Kerja AS, dan proyeksi HSBC. Semua angka itu kami kutip dari pemberitaan CNBC Indonesia; kami tidak membuka langsung terminal data atau rilis lembaga tersebut.
- Arah harga emas ke depan dan dampaknya ke emiten tambang emas. Tidak ada proyeksi harga, pendapatan, margin, atau arus kas yang kami hitung, dan tidak ada rekomendasi saham di artikel ini.
- Keputusan suku bunga The Fed yang sebenarnya pada rapat Oktober 2026; artikel ini hanya melaporkan ekspektasi pasar, bukan hasil rapat.
Sumber
Artikel ini disusun dari tiga pemberitaan CNBC Indonesia yang kami baca langsung pada 4 Oktober 2026. Seluruh kutipan di atas diambil apa adanya dari laporan-laporan tersebut.
- CNBC Indonesia — Elvan Widyatama, "Harga Emas Babak Belur: Anjlok 3,36% Sepekan, Ada Apa?", 3 Oktober 2026 pukul 07:00 WIB. Digunakan untuk: penutupan emas Jumat 2 Oktober 2026 di US$4.142,34 per troy ons (-0,85%) merujuk Refinitiv; pelemahan mingguan 3,36% dan pelemahan mingguan kedua beruntun; imbal hasil US Treasury tenor 10 dan 30 tahun yang menyentuh level tertinggi sejak 2002; penguatan dolar AS; data *nonfarm payrolls* September 2026 sebesar 29.000 versus perkiraan 90.000 dan revisi Agustus dari 162.000 menjadi 133.000; tingkat pengangguran 4,2%; pengajuan tunjangan pengangguran di sekitar level terendah 57 tahun; peluang kenaikan suku bunga The Fed Oktober sekitar 22% menurut CME FedWatch dan sikap pejabat The Fed; penurunan emas lebih dari 20% sejak perang AS–Israel dengan Iran akhir Februari 2026; serta kutipan Han Tan (Bybit) dan Edward Meir (Marex).
- CNBC Indonesia — "Harga Emas Naik, Tapi Masa Depannya Diramal Suram: Investor Cemas", 2 Oktober 2026 pukul 07:10 WIB. Digunakan untuk: penutupan emas Kamis 1 Oktober 2026 di US$4.177,76 per troy ons (+0,52%) merujuk Refinitiv; turunnya peluang kenaikan suku bunga The Fed pada Oktober menjadi 31%, dari 45% sebelum data inflasi AS dirilis dan 69% sepekan sebelumnya; imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun yang melonjak ke level tertinggi dalam lebih dari dua dekade; pemangkasan proyeksi rata-rata harga emas 2026 dan 2027 oleh HSBC menjadi US$4.490 dan US$4.825 per troy ounce; kutipan David Meger (High Ridge Futures); serta harga perak Kamis dan Jumat.
- CNBC Indonesia — Elvan Widyatama, "Harga Emas Antam Logam Mulia Hari Ini Turun Jadi Segini!", 3 Oktober 2026 pukul 09:30 WIB. Digunakan untuk: harga emas Antam 1 gram pada Sabtu 3 Oktober 2026 turun Rp2.000 menjadi Rp2.574.000 per gram dan penurunan hari sebelumnya Rp5.000 menjadi Rp2.576.000; harga *buyback* turun Rp6.000 menjadi Rp2.380.000 per gram dari Rp2.386.000; serta ketentuan PPh Pasal 22 atas pembelian dan *buyback* emas Antam.



