Harga Emas Dunia Turun 2% Sepekan, Tertekan Suku Bunga The Fed dan Imbal Hasil Obligasi AS

By Teramine EditorialPublished 28 September 20266 min readCompany: Federal Reserve (The Fed)

Harga emas spot ditutup di kisaran US$4.285–4.286 per troy ons pada Jumat, 25 September 2026, dengan koreksi sekitar 2% sepekan. Penyebabnya inflasi, sinyal kebijakan ketat The Fed, dan imbal hasil obligasi pemerintah AS.

Harga emas dunia menguat tipis pada perdagangan Jumat, 25 September 2026, tetapi tidak cukup menutup koreksi sepekan. Dua laporan terpisah mencatat penurunan sekitar 2 persen untuk pekan lalu, dengan sebab yang sama: kekhawatiran inflasi, sinyal kebijakan moneter ketat dari bank sentral Amerika Serikat, dan imbal hasil obligasi pemerintah AS yang tinggi.

CNBC Indonesia, dalam laporan 26 September 2026, menulis harga emas spot berada di US$4.286,25 per troy ons pada perdagangan Jumat, naik 0,19 persen dibanding hari sebelumnya, dengan penurunan mingguan 2,07 persen. Bloomberg Technoz, dalam laporan 28 September 2026, mencatat harga emas spot ditutup US$4.285 per troy ons pada hari yang sama, menguat 0,24 persen, dengan koreksi mingguan 2,24 persen.

Selisih kecil itu berasal dari sumber data dan waktu pencatatan yang berbeda pada kedua pemberitaan; arahnya sama. Kami menampilkan keduanya sebagaimana dilaporkan dan tidak meratakannya menjadi satu angka, karena tidak ada dasar bagi kami untuk menyebut salah satunya lebih benar.

Angka Pekan Lalu

ItemAngkaSumber
Harga emas spot, Jumat 25 Sep 2026US$4.285–4.286,25 per troy onsBloomberg Technoz; CNBC Indonesia
Perubahan harian+0,24% (Bloomberg Technoz) / +0,19% (CNBC Indonesia)idem
Perubahan sepekan-2,24% (Bloomberg Technoz) / -2,07% (CNBC Indonesia)idem
Posisi terhadap puncaksekitar 19% di bawah level tertinggi pada sesi perdagangan 27 FebruariCNBC Indonesia
Suku bunga The Fednaik 25 basis poin ke rentang 3,75–4 persenBloomberg Technoz
Peluang kenaikan berikutnya menurut pasar64% untuk Oktober dan 93% untuk DesemberCME FedWatch, dikutip CNBC Indonesia

Tiga Beban yang Disebut Kedua Laporan

Inflasi. CNBC Indonesia menulis kekhawatiran tentang inflasi yang tinggi menjadi salah satu penekan harga emas. Laporan yang sama menyebut bahwa sejak dimulainya perang AS–Israel di Iran, kenaikan harga energi terus memicu kekhawatiran inflasi dan memaksa bank sentral mengadopsi kerangka kebijakan yang lebih ketat untuk menjaga tekanan harga.

Kebijakan suku bunga. Menurut Bloomberg Technoz, ekspektasi kebijakan moneter ketat menjadi beban bagi harga emas, dan bank sentral di berbagai negara sudah menaikkan suku bunga acuan — dengan penilaian bahwa itu tampaknya bukan yang terakhir pada tahun ini. Laporan itu menyebut bank sentral AS, Federal Reserve, menaikkan Federal Funds Rate sebesar 25 basis poin (bps) ke 3,75–4 persen dalam rapat bulan ini, dengan Gubernur Kevin Warsh dan koleganya.

CNBC Indonesia, pada hari yang sama, menulis The Fed menaikkan suku bunga sebesar seperempat poin dan menyebutnya kenaikan pertama dalam tiga tahun, sambil mengisyaratkan kenaikan lebih lanjut. Kedua laporan itu tidak sama dalam menyebut waktu rapatnya — yang satu menyebut "rapat bulan ini", yang lain menyebut "pekan lalu" — dan kami tidak menyimpulkan mana yang tepat.

Imbal hasil obligasi. CNBC Indonesia menulis imbal hasil obligasi pemerintah AS yang lebih tinggi menaikkan biaya peluang memegang emas batangan yang tidak memberikan imbal hasil. Han Tan, kepala analis pasar di Bybit, mengaitkan penurunan itu dengan pergerakan imbal hasil tersebut:

"Lonjakan imbal hasil obligasi pemerintah yang tak henti-hentinya telah membuat harga emas berada di jalur penurunan mingguan keempat dalam lima minggu terakhir."
"Logam mulia yang tidak memberikan imbal hasil ini telah berjuang melawan berbagai macam hambatan, termasuk risiko inflasi yang terus meningkat, imbal hasil obligasi pemerintah yang tak terkendali, dan kebijakan The Fed yang agresif."

Kedua kutipan itu disampaikan Han Tan kepada Reuters dan dimuat CNBC Indonesia pada 26 September 2026. Kami mengutipnya dari laporan tersebut, bukan langsung dari Reuters.

Latar Geopolitik

CNBC Indonesia menulis para negosiator di New York sedang menjajaki jalur bertahap untuk mengakhiri perang, yang akan melibatkan Teheran membuka kembali Selat Hormuz dan Washington mencabut blokade ekonomi terhadap Iran, menurut beberapa sumber. Harga minyak turun lebih dari 1 persen karena sebagian kekhawatiran tentang pasokan mereda — konteks yang disebut laporan itu sebagai bagian dari gambaran pasar pekan lalu.

Di sisi lain, laporan yang sama mencatat emas secara tradisional dianggap sebagai lindung nilai inflasi dan investasi aman, tetapi suku bunga yang lebih tinggi mengurangi daya tariknya karena investor beralih ke aset yang memberikan imbal hasil.

Sisi Indonesia: Harga Emas Antam Naik di Hari yang Sama

Pada 26 September 2026, ketika koreksi mingguan harga global itu dilaporkan, harga emas Antam yang dijual melalui kanal Logam Mulia justru dilaporkan naik Rp23.000 per gram menjadi Rp2.613.000 per gram, dengan harga *buyback* Rp2.438.000 per gram, menurut CNBC Indonesia yang mengutip situs resmi Logam Mulia.

Kedua angka itu tidak sebanding secara langsung: yang satu harga spot global dalam dolar AS, yang lain harga jual ritel dalam rupiah. Kami tidak menemukan penjelasan resmi atas arah yang berbeda itu, sehingga kami tidak menyimpulkan sebabnya. Rincian harga domestik pekan itu kami ulas di artikel [Harga Emas Antam Naik Rp23.000 Jadi Rp2.613.000/Gram](/id/news/harga-emas-antam-logam-mulia-dan-pegadaian).

Apa Artinya bagi Pembaca

  • Bagi pemegang emas fisik, angka yang berlaku saat menjual adalah harga *buyback*, bukan harga spot global. Pada 26 September 2026 harga *buyback* Antam dilaporkan Rp2.438.000 per gram.
  • Bagi pelaku usaha dan investor, yang bergerak pekan lalu bukan produksi atau pasokan, melainkan biaya uang: suku bunga dan imbal hasil obligasi. Emas turun justru di tengah kekhawatiran inflasi — situasi yang dijelaskan CNBC Indonesia sebagai akibat imbal hasil yang lebih menarik pada aset berpendapatan tetap.
  • Bagi pembaca yang memakai emas sebagai lindung nilai, dua laporan itu sama-sama mencatat bahwa fungsi tersebut sedang diuji: emas masih dianggap lindung nilai inflasi, tetapi kenaikan suku bunga mengurangi daya tariknya.

Pelaku usaha yang membutuhkan mitra pembiayaan atau kerja sama di rantai tambang dan emas dapat melihat daftar di halaman [Marketplace](/id/marketplace) kami.

Catatan Teramine

Bagian Catatan Teramine ini adalah analisis editorial kami, bukan pernyataan fakta dan bukan kutipan dari sumber mana pun.

Hal yang paling layak dicatat dari pekan lalu adalah kombinasi penyebabnya, bukan besarannya. Emas turun sekitar 2 persen di tengah kekhawatiran inflasi — kondisi yang biasanya menjadi alasan orang membeli emas. Yang mengalahkan dorongan itu adalah imbal hasil: ketika obligasi pemerintah AS memberi hasil yang lebih tinggi, biaya memegang aset tanpa imbal hasil menjadi lebih mahal, dan itulah yang dijelaskan kedua sumber di atas. Bagi pembaca di sektor tambang, urutan sebab seperti ini penting karena ia berarti harga emas saat ini lebih banyak ditentukan oleh arah kebijakan moneter negara lain daripada oleh apa yang terjadi di tambang.

Kami menandai satu hal yang tidak dapat kami pastikan: penurunan sekitar 19 persen dari puncak 27 Februari itu dilaporkan tanpa penjelasan apakah dihitung dari harga penutupan atau harga intraday, sehingga angkanya sebaiknya dibaca sebagai besaran perkiraan. Kami juga tidak dapat memverifikasi jadwal rapat The Fed berikutnya, besaran kenaikan yang akan diambil, maupun sebab resmi mengapa harga ritel Antam bergerak berbeda arah dari harga spot global pada hari yang sama. Semua itu tidak kami taksir dan tidak kami karang.

Sumber

Artikel ini disusun dari dua laporan pasar dan satu laporan harga domestik. Tidak ada angka dalam artikel ini yang tidak berasal dari ketiga halaman di bawah. Untuk pergerakan spot pekan lalu, artikel ini memuat kedua versi angka apa adanya karena keduanya berbeda; untuk keputusan suku bunga The Fed, artikel ini memuat kedua penyebutan waktu apa adanya karena keduanya juga berbeda.

Sources & References

Citing a report by CNBC Indonesia — "Inflasi & Suku Bunga Membayangi, Harga Emas Ambles 2% Sepekan", 26 September 2026 (harga spot US$4.286,25 per troy ons pada Jumat 25 Sep 2026, +0,19 persen harian, -2,07 persen sepekan; kenaikan suku bunga The Fed seperempat poin dan disebut kenaikan pertama dalam tiga tahun; peluang kenaikan Oktober 64 persen dan Desember 93 persen menurut CME FedWatch Tool; posisi sekitar 19 persen di bawah puncak 27 Februari; kutipan Han Tan, kepala analis pasar Bybit, dari Reuters; negosiasi Selat Hormuz dan penurunan harga minyak lebih dari 1 persen), …

  1. 1
  2. 2
  3. 3

This article was rewritten with added context and data. Original sources are listed for transparency.

EmasThe FedSuku BungaHarga Emas DuniaAntamObligasi AS
Share

Related Mining Opportunities

Mining projects currently offered on Teramine for this commodity.

Browse Mining Opportunities

Looking for mining investment opportunities in Indonesia?

Browse IUP projects available for take over, joint operation and joint venture on Teramine.

Explore Mining Opportunities

Own a mining asset or project?

Publish your mining opportunity to Teramine's investor network.

Submit Mining Opportunity

Layanan Terkait

Ada Pertanyaan?

Konsultasi gratis dengan tim ahli kami

Hubungi Kami